Setiap pagi aku berangkat ke kantor naik Kopaja 19, pagi ini 08.15 aku naik dari Bendungan Hilir menuju Ratu Plaza, ketika aku naik bis, seseorang memegang saku depan celanaku (yang di dalamnya ada HP). Aku diam saja, gak curiga apa-apa. Tapi, lama-lama kok ada orang berdempetan terus ke belakangku, aku gak curiga apa-apa. Akhirnya, ada tangan yang mencoba masuk ke saku celana depanku, baru aku sadar itu adalah COPET, ku pukul tangan si copet dan aku menghindar dari copet tersebut, aku lari ke belakang bis. Ada seseorang menegurku, “Ada apa yang terjadi, Pak?”. Eh … ternyata, yang menegurku adalah kawannya si copet. Aku raba dompetku (Alhamdulillah masih ada), aku pegang HP-ku (Alhamdulillah masih ada), kuperhatikan semua copet-copet yang ada di bis, ku hitung : satu, dua, tiga … (ada tujuh orang).
Ada seorang ibu yang terambil dompetnya ketika turun, dompetnya diserahkan kepada kawan si copet. Dalam hatiku, aku ingin berteriak “Coopeeeeeettttt …..”. Namun, aku tak kuasa, aku berpikir realistis saja, kalau aku berteriak “copet”, aku akan di hajar oleh si copet yang berjumlah 7 orang, sedangkan aku hanya sendirian saja, kondektur saja gak berani berteriak “Cooopeeeettt”. Weleh …. Weleh …. Copet …. Copet …..
Mari kita berhati-hati kalau naik kendaraan, jangan lupa berdo’a, dan tentu selalu waspada setiap saat. Padahal, dengan naik bis kota, dapat mengurangi kemacetan di kota Jakarta, seharusnya Pemerintah DKI dan Pemerintah Pusat harus dapat menjamin keamanan, keselamatan dan kenyamanan penumpang bis kota, sehingga orang akan nyaman naik bis kota. Orang yang punya mobil pribadi satu, dua atau tiga (sekalipun), akan membiasakan ke kantor naik bis kota, pasti Jakarta bermartabat. Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar