Selasa, 13 Mei 2008

DUNIA INI PANGGUNG SANDIWARA

Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya … mudah berubah, ada peran wajar dan ada peran berpura-pura ”. Begitulah sepenggal lagu lama yang dinyanyikan oleh Ahmad Albar. Kita sering melihat, kehidupan anak manusia di dunia ini. Ada orang yang kaya, rumah dan villa-nya punya 5 (di Jakarta, di Bandung, di Puncak, di Malang, di Bali), mobil mewahnya punya 7 buah (untuk dia, istrinya, anak-anaknya, keponakannya, adik-adiknya, dan sebagainya). Padahal kita tidak mengetahui, dari mana rizqi itu diperoleh?

Sepintas, kita menduga, orang itu hidup BAHAGIA. Apapun yang dia inginkan, segalanya dapat diperoleh dengan mudah. Memang kawan, secara lahiriah, dia hidup bahagia. Padahal hatinya … belum tentu BAHAGIA Rek?

Ada sedikit pengalaman yang pernah aku alami. Di dekat rumah-ku (di Bandung) ada sebuah Mesjid (Mesjid An-Nur namanya). Ketika terdengar suara adzan Dzuhur, aku ikut berjamaah di Mesjid tersebut. Ketika sholat Ashar, akupun ikut berjamaah di Mesjid itu, begitupun sholat Magrib, aku berjamaah di Mesjid itu. Bahkan sholat Isya-pun, aku berjamaah di Mesjid itu. Saat itu, tidak ada yang aneh dan tidak ada yang menarik perhatianku (di Mesjid tersebut), semuanya biasa-biasanya saja. Ketika terdengar suara adzan Shubuh, akupun bangun dan pergi berjamaah di Mesjid tersebut. Ketika aku dzikir, sejenak aku perhatikan seseorang yang berpakaian sederhana, dengan sarung yang lusuh, atasnya dibalut dengan kaos yang belel dan kusam, kepalanya memakai kopiah hitam kecoklat-coklatan (karena kusam), orang ini, dari sholat Dzuhur, Ashar, Magrib, Isya dan Shubuh, selalu berjamaah di Mesjid ini. Sejenak aku ngobrol dengan dia, dia bernama Toto Sudarma (Mang Toto), pekerjaan sehari-harinya hanya tukang becak di kota Bandung. Penghasilan sehari-harinya, rata-rata hanya Rp.15.000,- setiap hari, terkadang hanya dapat Rp.7.500,- sehari. Namun kawan …, hatinya tenang, dia gak punya hutang, anak-anaknya (di Garut Jawa Barat) lulusan Pesantren, sekarang bisa kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (terkenal) di kota Bandung, sebentar lagi akan wisuda. Inilah mungkin, kehidupan ini panggung sandiwara, inilah mungkin yang disebut rizqi yang BAROKAH. Maka, panggung sandiwara ini berjudul “RIZQI YANG BAROKAH”.

Sementara, dalam panggung sandiwara lainnya. Ada seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi Swasta bergengsi di kota Bandung (pasti biayanya juga selangit mahalnya), orangtuanya sangat kaya, mahasiswa ini kalau kuliah selalu pakai mobil, teman-temannya banyak yang dekat dengannya, karena siapa yang dekat dengan dia, pasti akan ditraktir segalanya. Namun apa yang terjadi kawan … Ternyata kuliahnya gak sampai lulus, karena baru tingkat 2 semester 3, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, karena pacarnya hamil diluar nikah (HAMDAN), Naudzubillah… Dia tidak mampu lagi konsentrasi untuk menyelesaikan perkuliahannya. Itulah panggung sandiwara, dengan judul “RIZQI YANG TIDAK BAROKAH”.

Mari kawan, sejenak kita merenung (kontemplasi), apa judul sandiwara yang ingin kita perankan? Apa judul sandiwara untuk anak-anak kita? Apa judul sandiwara untuk orangtua kita? Apa judul sandiwara untuk saudara-saudara kita? Semua … tergantung kita, kawan.

Namun, agar judul sandiwara yang kita perankan itu baik (positif), agar kita selamat dunia dan akhirat, agar hati kita tenang. Maka, kita harus back to ad-Diin (kembali ke AGAMA). Sesibuk apapun pekerjaan yang sedang kita hadapi, sekuat apapun goncangan kehidupan yang sedang kita alami, kuncinya adalah back to ad-Diin (kembali ke AGAMA). Akhirnya, manusia hanya bisa ikhtiar, hanya Tuhan yang menentukan segalanya. Dunia ini panggung sandiwara.

Wallohu’alam bisshawab. Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar: